Cerita Singkat tentang Perjalanan Rasa

Bismillahirrohmanirrohim

“Aku ragu ada dan tiadaku. Namun cinta mengumumkan aku ada”- M. Iqbal

Syukurku padaMu Robbi, telah Kau temukanku dengan Imamku. Jadikan Ia penyejuk hatiku & pembimbingku untuk lebih dekat denganMu.

Hanya perjalanan singkat

Akhir tahun 2012, seorang pemuda yang mencoba memberikan sinyal kepada hati saya. Sedangkan saya tidak kenal sebelumnya. Ia mengaku kalau ia adalah adik dari sahabat mama saya. Saya hanya menjawab obrolannya dengan singkat dan cuek. Tidak ada rasa ingin tau. Ia mencoba memberikan pesan modus basa-basi lewat bbm yang memang bbm masih sangat eksis saat itu. Sayangnya radar hati saya sedang tidak berpihak padanya. Bukan dia yang saya harapkan.

Beberapa bulan Istikhoroh yang saya lakukan untuk pria lain sebelum “pemuda itu” belum berbuah apa-apa. Sedangkan perbincangan singkat dengan pemuda itu masih saya lakukan. Rasa takut menyelinapi hati. Tak ada niat untuk memberikan harapan pada pemuda itu, saya putuskan untuk mengatakan kepadanya bahwa saya memang masih sendiri, namun hati saya sudah untuk seseorang. Dalam sekejap berakhirlah perbicangan saya dengan pemuda itu. Tak ada lagi sapa basa basi. Rasa senang.

Saya mulai membuka diri dengan mama, membicarakan apa yang saya rasakan. Anak gadis sulungnya ini sudah mulai merasakan kebingungan akan rasa. Semua. Semua hal saya bagi dengannya.

Liburan pergantian tahun ternyata keluarga mengajak saya liburan di Jogja. Saya menolak. Tidak, saya tidak akan ikut. Saya malu jika harus bertemu seorang pemuda itu. Jogja itu kecil dan siapa yang tau kalau saya akan bertemu dengannya. Tetapi ternyata saya tetap harus kesana, beruntung saya tidak menemukan sosoknya. Tidak beruntungnya adalah pemuda itu memulai lagi pembicaraan baru. Di awal tahun 2013. Yang saya takuti pembicaraan ini akan berlanjut seterusnya. Ternyata benar. Ada lagi basa basi yang muncul. Tapi ini bukan sekedar modus. Ada hal yang mulai menarik perhatian saya.

Allah perlahan mulai mengarahkan saya untuk memberikan kesempatan kepada seorang pemuda itu. Allah izinkan saya melunakkan hati saya untuk mulai membuka diri dan menjauhkan ego cuek. Namun istikhoroh tetap saya jalani, mengharap petunjuk dariNya.

Hanya silang beberapa bulan. Tepat pada bulan Maret 2014, Ia mengajak saling ngobrol tatap muka. Ia yang waktu itu sedang bekerja di Surabaya sepertinya benar-benar menyempatkan waktu untuk mengatakan niat keseriusannya. Saya sempat menolaknya, tapi setelah saya pikir tak ada salahnya jika memang itu niat serius yang akan dia lakukan.

Canggung. Belum pernah sebelumnya saya bepergian dengan lelaki yang bukan mahram hanya berdua. Itu perjalanan singkat yang diizinkan oleh ayah saya. Pemuda itu mengatakan niatnya bahwa Ia tertarik dan ingin melanjutkan hubungan serius dengan saya. Dengan izin Allah saya menjawab Ya.

Entah. Jangan Tanya kenapa. Sampai sekarang juga saya tidak tau mengapa saya bisa menjawab Ya. Pasti Allah yang menguatkan hati saya dan menudahkan lidah saya untuk menerimanya. Semoga ini jawaban istikhoroh yang saya lakukan. Esoknya Ia menemui Ayah saya dan mengatakan bahwa Ia akan menikahi saya. Luar Biasa! Kagum. Baru sekali ketemu langsung ingin mepersunting saya. Ckck. Ayah saya menyerahkan semuanya kepada saya. Tidak mengikat. Beliau masih membebaskan aktifitas saya dengan kuliah yang saya jalani.

Pemuda yang baru saya kenal. Pemuda jauh dari Jogja yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Surabaya. Pemuda yang penuh percaya diri akan meminang saya. Semoga niatnya benar-benar Lillahita’ala.

Seminggu dua minggu seperti biasa, saya masih menganggapnya hanya sekedar perkenalan. Belum ada tumbuh benih cinta. Yang saya yakin hanya rasa percaya. Percaya Ia bisa menjadi Imam saya. Setiap hari Ia selalu memberikan motivasi baru yang bisa membuat saya luluh dengan segala ceritanya. Hubungan Jarak Jauh. Saya tidak berani mengatakan ini adalah ta’aruf.

Tiga bulan tidak bertemu dengan rasa yang masih sama. Ia mengundang saya ke pernikahan kakaknya di Jogja. Kami bertemu dan saya dikenalkan oleh saudara kandung dan keluarga lainnya. Di sanalah saya baru menyadari bahwa ini hal serius. Hal yang tidak sama seperti orang pacaran lainnya. Sepulang dari Jogja saya mulai bertekad untuk menjaga diri dan kehormatan saya untuknya. Calon Imam yang sudah memperjuangkan saya.

Saya hapus segala lembaran lama dan harapan-harapan lama yang tak kunjung datang. Tak ada lagi pria lain. Saya benar benar mulai menjaga diri. Karna saya tau, jika saya ingin Pria soleh saya tidak harus menuntut mencarinya. Tetapi saya harus berusaha menjadi wanita solehah. Maka akan datang pria soleh untukmu. QS An.Nur Ayat 26. “Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik”.

Awal perjanjian pernikahan adalah ketika saya lulus kuliah. Namun Ia selalu memberikan cerita-cerita yang membujuk saya untuk segera menikah. Tak baik jika terlalu lama menunda, hal baik harus disegerakan, katanya. Jujur saya sangat bingung. Kembalilah Allah yang selalu sedia menjadi petunjuk saya. Saya bicarakan dengan kedua orang tua dan mereka sangat bersyukur. Memang itu yang beliau mau, karna tidak ada yang tau dengan menunda dosa akan bertebaran. Menikah adalah ibadah.

Banyak buku yang harus saya baca untuk menambah keyakinan saya untuk menikah, selain istikhoroh dan mufakat. Saya kurangi membaca novel-novel kegemaran, saya menukarnya dengan bacaan-bacaan tentang pernikahan (irit duit). Diantaranya buku Ust. Felix Siauw (Udah Putusin Aja),  Salim Al-Fillah (Nikmatnya Setelah Pacaran, Agar bidadari cemburu padamu), Ikhsanun Kamil & Foezi (Jodoh Dunia AKhirat), Indra & Nunik Noveldy (Menikah Untuk Bahagia), dan banyak lagi macamnya. Saya juga banyak membaca kisah inspirasi melalui blog, tumblr, dan sebagainya. Mendengar kisah mereka yang nikah muda, nikah disaat masih kuliah, dan bertukar pikiran dengan senior kampus saya sendiri yang sekarang sudah memiliki anak disaat wisuda bahkan membuat komunitas ibu muda.

Banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Bagaimana wataknya. Bagaimana sifat aslinya (sedangkan pertemuan hanya sekali dalam 3 bulan). Bagaimana kesanggupannya mencari nafkah. Bagaimana saya harus tinggal dan meneruskan kuliah jika Ia masih di Surabaya. Bagaimana dengan orang tua dan saudara kandungnya. Bagaimana kebaikan-kebaikan lainnya yang merupakan wajib dipikirkan sebelum menikah. Alhamdulillah ternyata pemuda ini siap lahir dan batin. Allah mudahkan Ia untuk mutasi ke Jakarta pada Oktober 2013.

Disamping banyak yang mendukung, banyak pula saudara yang menentang. Mulai dari kakek nenek, tante atau om yang meragukan kesiapan atau perkuliahan saya. Saya jelaskan niat saya menikah untuk dan karna Allah. Dengan Allah semua insyaAllah dipermudah, baik itu urusan kuliah atau rumah tangga saya kelak. Saya pasti tetap butuh bimbingan dan bantuan orang tua dan keluarga. Semua saya serahkan padaNya.

Setelah saya menjelaskannya. Dengan izin Allah mereka setuju dengan niat baik kami. Allah beri kami banyak kemudahan. Inilah alasan saya yakin untuk menikah. InsyaAllah akhir tahun 2014, setelah selesai kegiatan PPL. Persiapanpun dimulai.

Aktifitas perkuliahan saya jalani seperti biasa. Belum ada sahabat yang saya beritahu berita baik ini, mungkin nanti akhir Agustus. Ini agar saya saya dapat fokus menjalani kuliah. Lika-liku ujian dalam persiapan pasti ada, namun Allah Yang Maha Baik selalu mempermudah.

Tak terasa Bulan November datang tanpa dijemput. Pelaksanaan dimulai tanggal 27 November 2014 dengan acara adat malam bainai. Acara pelepasan, doa, dan nasehat dari keluarga untuk calon mempelai wanita.

Lusa 29 November 2014 acar inti. Akad nikah. Semua berjalan lancar. Alhamdulillah. Hanya dalam hitungan detik, sudah berganti status saya. Berpindahlah tanggung jawab dari papa ke pemuda itu. Arsy Allah berguncang. Semoga Allah meRidhoi dan mengirim RahmatNya kepada kami. Pemuda itu kini sudah sah menjadi suami saya. Pemuda yang dulu tidak saya harapkan kini selalu menjadi yang saya banggakan. Ialah Syukri Rahmad.

Esoknya kami jalani dengan resepsi di Manggala Wanabakti dengan niat berbagi kebahagiaan, saling mendoakan, silaturahim, dan mensyukuri kelancaran acara yang Allah mudahkan untuk kita semua. Benih cintapun tumbuh karna terbiasa. Alhamdulillah.

 

Izinkan aku Rabb menikah dengannya,

Agar orang tua Bahagia,

Rasulullah Bangga,

dan Engkau Semakin Cinta  – JDA

IMG_7433

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Cerita Singkat tentang Perjalanan Rasa

  1. gak bisa berkata apa-apa, barakallahhulakuma eja 🙂 salam untuk bang syukri, btw udah lama gak nulis tapi masih bagus aja tulisan lu ja hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: